Pentingnya Serat Bagi Kesehatan Tubuh

Pentingnya Serat Bagi Kesehatan Tubuh

Menurut rekomendasi, dalam sehari kaum dewasa seharusnya mengasup 20-35 gram serat, namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang hanya mengasup setengah dari jumlah tersebut. Padahal serat memiliki perang yang sangat penting bagi tubuh. Selain dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah, memperlancar proses pencernaan, mengatasi dan mencegah konstipasi (sulit buang air besar), serat juga dapat membantu mengurangi asupan makanan, dan membuat rasa kenyang cepat datang.

Tak hanya itu, serat juga dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah dan insulin, serta membantu mewujudkan indeks massa tubuh yang sehat. Serat juga berguna dalam memerangi kanker, terutama kanker kolon. Menurut penelitian yang melibatkan responden 10 negara, melipatgandakan asupan serat dapat membantu menurunkan kemungkinan kanker kolon sebanyak 40%.

Serat juga dikatakan dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik- sekumpulan faktor risiko yang dapat mempertinggi risiko diabetes dan penyakit jantung, seperti obesitas dan kadar kolesterol tinggi. Sebuah penelitian lain juga berhasil membuktikan bahwa serat memberikan perlindungan bagi jantung, yakni dengan menurunkan kadar kolesterol “jahat” LDL, tanpa mengurangi kadar kolesterol “baik” HDL.

Serat makanan terbagi 2 jenis, yakni serat larut dan serat tak larut. Serat larut adalah serat yang dapat larut dalam air dan banyak ditemui di oatmeal, oatbran, dan buah-buahan, serta sejumlah sayuran. Dengan mengasup serat jenis ini, kemungkinan kolesterol diserap oleh usus akan mengecil. Tak hanya itu, serat larut juga membawa manfaat bagi para diabetesi, karena dapat meminimalisir peningkatan kadar gula darah sehabis makan.

Serat tak larut banyak ditemui di gandum utuh, biji padi, kulit padi, beras merah, biji-bijian dan sayuran, seperti wortel, ketimun, seledri, tomat, dan selada. Manfaat serat yang tidak dapat larut dalam air ini terutama berkaitan dengan pencernaan,  serta mengurangi resiko kanker kolon dan obesitas.

[Sumber: disadur dari majalah “Indonesia Health Today”]